Pengajian dalam rangka Maulud Nabi SAW

“MENELADANI AKHLAK ROSULULLAH”

Latar Belakang & Muasal

Peringatan Maulid Nabi bukan tradisi pada jaman Nabi Muhammad atau Khulafaturrasyidin. Pencetus atau penggagas peringatan adalah Sultan Shalahudin Al-Ayubi. Bertujuan untuk membangkitkan semangat umat muslimin pada saat itu.Berlatar belakang saat Perang Salib berlangsung selama 200 tahun pada abad 10 dan 11. untuk membangkitkan semangat kristian , maka Paus di Vatikan memprovokasi untuk menggelorakan Perang Salib berseru : “Rebut Kota Yerussalem, karena orang orang kriten disana dianiaya/tertindas oleh kaum muslimin”, disamping seruan itu Paus mengeluarkan ‘Surat Pengampunan Dosa’ yang berisikan barangsiapa yang ikut dalam pasukan salib akan dihapus-ampuni dosa-dosa masalalu, masakini dan masadepan. Mendengar seruan dan janji Paus (sebagai antek Tuhan), maka berbondong-bondong kristian dari berbagai kalangan/golongan, bahkan tidak sedikit penjahatpun ikut bergabung dengan berdalih untuk dapat pengampunan dosa dari Tuhan menjadi bagian pasukan salib. Disamping itu tradisi perayaan Natalpun di make-up meriah gegap gempita yang menimbulkan semangat bagi para kristian.Kekuatan semangat ini yang perlu dipupuk juga dipihak kaum muslimin, akhirnya Sultan Shalahudin Al-Ayubi menyelenggarakan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW untuk mengenang kembali sejarah perjuangan Rosulullah dalam berdakwah hingga akhir hayatnya yang bisa menjadi tauladan/contoh bagi umat muslimin.Hukum & IjtihadAda beberapa ulama yang berpendapat berbeda tentang hokum penyelenggaraan itu. Namun ada ijtihad untuk mengganti peringatan tersebut menjadi acara pengajian dalam rangka Maulud Nabi Muhammad saw.Kriteria KenabianManusia terpilih menjadi Nabi, riwayat hidupnya memenuhi criteria (dan Allah swt menjaganya), sbb :

  1. MISTALIYAH  (keteladanan)
  2. SARABUNNASAB (Garis Keturuanan yang mulia)
  3. AMILUZZAMAN ( Dibutuhkan sepanjang jaman)

Muhammad sebagai manusia dan rosulMuhammadurrosulullah, tak terlepas dari sebagai pribadi manusia. Dalam kehidupan dan mungkin dalam menghadapi masalah, bila tidak mendapat wahyu untuk solusinya, Nabi menggunakan Ijtihadnya untuk menyelesaikannya. Walau terkadang salah dan akhirnya ditegur oleh Allah melalui wahyu-wahyu Nya. Cerita tentang Muhammad sebagai manusia biasa yang ditegur oleh Allah. pada saat pasca perang badar, untuk pertama kalinya pasukan muslimin mendapatkan tawanan perang, maka bagaimana pemecahannya…. Akan dikemanakan tawanan tersebut. Maka musyawarah digelar, pendapat sahabat Abu Bakar bahwa tawanan itu adalah saudara kita juga.. yang bisa berubah menjadi hamba Allah maka perlakukan mereka baik2 aja, dan dipaksa untuk mengajari kaum muslimin. Sedang pendapat sahabat Umar bin Khatab berbeda 180 derajat bahwa tawanan tersebut harus ditumpas habis karena memerangi kaum muslim. Mendengar dua pendapat yang berbeda dan berlawanan tsb. Rasulullah akhirnya memutuskan memilih pendapat Abu Bakar walaupun tetap menghargai pendapat Umar bin Khatab, pribadi Umar seperti Malaikat Jibril selaksa Nabi Nuh yang dengan tegas memohon kepada Allah untuk menumpas habis umat yang tidak bersujud kepada Tuhan Nabi Nuh. Demikian juga sahabat Abu Bakar diibaratkan seperti Malaikat ? dan seperti Nabi Ibrahim yang lembut mengajak kaumnya untuk beriman kepada Allah swt.  Cerita lain tentang Wahyu atau Ijtihad Nabi yaitu penentuan markas komando perang badar, saat itu setelah selesai di bukit badar, nabi Muhammad menyuruh pasukannya untuk berhenti dan mendirikan markas komando perang di tempat itu. Namun ada sahabat yang bertanya apakah penentuan tempat ini sebagai markas merupakan wahyu atau ijtihad pribadi rosul. Rasul menjawab bahwa itu merupakan ijtihad beliau sendiri. Oleh karena itu sahabat itu berpendapat untuk pindah ke daerah yang dekat dengan sumur, agar kebutuhan minum pasukan terpenuhi disamping pasukan muslim bisa menguasai air pada saat peperangan berlangsung.Cerita tentang kebijakan nabi terhadap ketaatan dan kefahaman sahabat.  Pada saat akan memulai perjalanan, shahabat mendapat pesan agar para sahabat sholat ashar di desa tujuan saja. Namun ditengah perjalanan para sahabat saling beda pendapat tentang itu. Pendapat pertama yaitu agar para sahabat tetap berjalan dan sholat ashar di tempat tujuan walau waktu ashar telah habis. Sedang pendapat kedua yaitu akan mendirikan sholat ashar di perjalanan karena assholatu ala waktiha. Akhirnya kedua kubu tersebut melaksanakan yang menjadi pendapat dan keyakinannya…sesampai ditujuan, para sahabat menanyakan  permasalahan tersebut kepada nabi. Nabi membenarkan kedua kubu tersebut…. Dan berkata AHSANU FI THO’ATIHIM (bagus ketaatanmu) kepada pengikut pendapat pertama.. dan berkata lagi ‘AHSANU FI TAF’IHIM (bagus pemahamanmu) ditujukan kepada pengikut pendapat kedua… dan akhirnya para sahabat itu semua tidak merasa salah pada peristiawa itu. (bila ada salah kata/tulisan pada artikel tsb, Astaghfirullah…  dan Jazakumullah khoiran jaza untuk nara sumber)*). Tausyiyah Ustadz  Yunahar Ilyas at Sabtu, 29 Maret 2008 di UAD.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pengajian. Tandai permalink.