kutipan dari “Selamat Malam, Duhai Kekasih”

Rembulan yang pucat bagai ikut bergoyang. Penyanyi dangdut itu, dengan baju panggung terbuka dan belahan di dada maupun di paha yang mendebarkan, seperti menari di atas awan. Ia seperti menyanyi di atas sebuah perahu, dan perahu itu mengembara di langit yang kelam. Sesekali panggung itu penuh dengan asap, lampu berpijar-pijar, dan penyanyi itu berputar-putar. Orkes menghentak menggugah kebinalan. Sukab sudah kebelet bergoyang, tapi malam itu ia hanya akan mempersembahkan dirinya untuk Tumirah.

Ditatapnya bunga yang dibawanya. Ia tahu dirinya sudah terlanjur mencintai Tumirah. Sesuatu yang telah diketahuinya hanya akan membawa malapetaka.

“Jangan terlalu sering bermimpi Sukab, belajarlah berbahagia dengan apa yang kamu miliki saja. Cinta adalah soal yang bisa menjadi pelik, tapi ia juga bisa menjadi begitu sederhana, kalau kamu bisa belajar hidup dengan apa adanya.”

Siapakah yang mengatakan itu kepadanya? Sukab sudah lupa. Dalam kehidupannya sebagai pengantar bunga, sudah begitu banyak pembantu rumah tangga ditemuinya di pintu pagar.



kutipan dari “Selamat Malam, Duhai Kekasih”

http://sukab.wordpress.com/2007/05/11/selamat-malam-duhai-kekasih/

Iklan